Bingkai Papua

Bingkai Papua
Rangkuman Berita Papua Dalam Bingkai

Breaking News

Mengulik Liku Hidup Mantan OPM Kembali Memeluk NKRI

Adalah Frans Albert Yoku, putra Papua kelahiran Sentani pada 20 Februari  1953 silam, merupakan mantan OPM  yang kini kembali ke pangkuan NKRI. Mengulik liku hidupnya dari sejumlah sumber literasi, penulis menemukan  daya tarik yang tersembunyi. 
Pict Frans Albert Yoku/Wenno
Bermula di usia 17 tahun, Frans Albert Yoku muda terpaksa harus mengikuti keluarganya ke Papua New Guinea (PNG) lantaran situasi keamanan di tanah kelahirannya saat itu tidak kondusif.
Selama berada di PNG, sejak tahun 1975 hingga tahun 1992 Franz Albert Yoku bekerja sebagai wartawan pada sebuah media ternama, PNG Post Courier selama 17 tahun. Setelah itu, Ia keluar dari wartawan dan beralih karir di Kantor Perdana Menteri sebagai seketaris presiden selama 1 tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Staf. Pada Tahun 1997 Ia bekerja dengan 2 wakil Perdana Menteri dan 3 menteri kabinet di PNG.

Hingga akhirnya pada bulan September tahun 2007 Gubernur Papua, Barnabas Suebu SH, saat itu, melakukan kunjungan kerja ke PNG dan memintanya kembali ke tanah air bersama dengan warga Papua lainnya.  Puji Tuhan,ia luluskan permintaan tersebut dengan rendah hati dan penuh kesadaran.

Pada kesempatan lain, penulis juga mengutip dari Harian Cenderawasih Pos tertanggal 25 Februari 2008 yang memberitakan tentang dua mantan OPM yang kembali, salah satu diantaranya adalah beliau sendiri, Frans Albert Yoku. Berikut nukilannya:

Empat puluh tahun menjadi warga negara asing akhirnya dua aktivis pejuang kemerdekaan Papua di luar negeri, Nicholas Simion Messet dan Frans Albert Yoku resmi kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pada 23 Februari 2008, akta kewarganegaraan mereka diserahkan langsung oleh Staf Khusus Wakil Presiden RI H.M. Alwi Hamu di Pendopo Ondofolo (Dhaikhelebhey Obhee), di Jalan Ifar Gunung No.2. Felavauw Sentani, Jayapura, Papua.

Niat baik kedua putra Papua ini untuk kembali menjadi warga Negara Indonesia sudah disampaikan langsung kepada Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Istana Wapres setahun sebelumnya, tepatnya pada 20 September 2007 lalu.

Sebagai umat beriman, penyerahan akta kewarganegaraan ini disertai dengan ibadah syukuran yang juga dihadiri sejumlah pejabat dan utusan negara tetangga PNG, antara lain : perwakilan dari Konsul Jenderal RI-PNG, Wakil Duta Besar RI-PNG, beberapa pejabat pemerintahan seperti Bupati Keerom, Celsius Watae (almarhum), Wabup Kabupaten Jayapura, Sadrak Wamebu SH,MM, Wakil Ketua DPRP, Komaruddin Watubun, SH, dan beberapa pejabat lainnya, para ondofolo, kepala suku, tokoh adat, tokoh masyarakat serta tamu undangan lainnya.

Usai ibadah dilanjutkan penyerahan akta kewarganegaraan RI yang disampaikan langsung Staff Khusus Wapres, H.M. Alwi Hamu mewakili pemerintah Indonesia.

Nicholas S Messet menyampaikan sambutannya bahwa dirinya berjuang kurang lebih 40 tahun di luar negeri untuk Papua Merdeka, namun tidak ada hasil yang diperoleh, sehingga dirinya kembali menjadi WNI untuk membangun Papua yang merdeka dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan.

Dilanjutkan, Frans Albert Joku menyampaikan secara berapi-api dan penuh semangat bahwa dirinya yakin, Negara Indonesia dan Papua ke depan akan lebih baik, aman, cerah dan lebih bermartabat. Dirinya dan Nick Messet mengakhiri satu fase dalam satu perjalanan yang relatif jauh, baik dari sudut pandang fisik maupun secara phisikologis.

Saat ini, mereka kembali pada fase yang baru dengan segala tantangan dan misteri ke depan. Dengan sadar dan penuh keyakinan, masa depan tanah dan bangsa ini ada di pundak mereka.

Dengan janji menjadi warga negara Indonesia yang baik, mereka akan setia kepada NKRI seperti warga negara yang lain. Bersama dengan masyarakat Papua dan Dewan Adat, mereka akan menjadikan otsus bukan sebagai tujuan, melainkan jalan menuju tujuan. Kedua tokoh Papua ini, juga akan mengajak warga Papua mengembalikan arah perjuangan Papua dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saat ini, Kedua tokoh Papua ini masih memperjuangan pembangunan Papua lewat otonomi khusus. Mereka tergabung dalam Yayasan Independent Group Supporting The Special Autonomous Region of Papua Within The Republic of Indonesia. Mereka yakin bahwa masyarakat Papua pasti semakin maju dimasa demokrasi saat ini. Berbeda jauh pada masa mereka terdahulu. Otonomi khusus Papua akan membuka jalan kemajuan bagi Papua dan pemerintah Indonesia menyediakan jalan Otonomi khusus untuk Papua bisa maju.

Tepatnya pada tanggal 1 Mei 1963, sejarah menyebutkan Papua untuk Indonesia. Namun, separatis KKB yang dikenal dengan sebutan OPM justru merusak sejarah.

Mari kita Membangun Papua lewat Otonomi khusus, seperti dua tokoh ini. Bukan membangun dengan darah seperti yang dulu dan sekarang OPM atau KKB lakukan. Masyarakat Papua membutuhkanmu OPM/KKB untuk kembalilah ke bumi pertiwi, bersama kita membangun Papua Bersama NKRI dengan cara yang lebih baik dan berperikemanusiaan.(*)




Danilo Wenno

Tidak ada komentar